Halaman

WELCOME TO MY BLOG... ^_^

My everything is here

Rabu, 06 Mei 2015

SANG TUNANETRA PENJUAL ROTI KELILING (A True Story)

Hari ini (Rabu, 6 Mei 2015), aku pergi ke Malioboro Mall untuk membeli sandal slingback di salah satu toko sepatu bernama G*sh. Satu jam setelah selesai belanja, aku memutuskan untuk pergi ke McD. Aku memesan beberapa snack karena saat itu, entah kenapa, aku sedang tidak nafsu makan dan cuma ingin makan makanan ringan.

Selang beberapa menit, pesananku siap lalu aku berjalan mengambil tempat duduk di bagian paling depan, dekat jendela kaca yang mengarah keluar mall. Di sana aku duduk bersama dengan kedua teman kampusku, tepatnya seniorku. Kami mengobrol beberapa saat sebelum tiba-tiba salah satu temanku menoleh ke jendela dan melihat seorang bapak tunanetra, berumur sekitar 50-an, yang membawa keranjang plastik yang di kalungkan di lehernya. Di dalam keranjang itu ada beberapa roti dagangannya yang masih penuh. Melihat bapak tersebut, hati kami langsung terenyuh.

Sesaat kemudian, kami melihat seorang satpol PP yang menegur bapak tersebut dan menyuruhnya pergi. Ya Allah, makin teriris hati kami. Temanku yang pertama kali melihat beliau tadi langsung menangis dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Jujur, sebenarnya aku juga ingin menangis. Tapi tidak mungkin aku ikut-ikutan menangis di dalam restoran. Apalagi dengan banyaknya orang yang mungkin saja bisa melihat kami. Makanya, aku langsung menegur seniorku itu.

"Mbak, nggak gitu caranya kalo ngasihani orang tuh. Nggak cuma dengan cara nangis kayak gini. Ayo, kita keluar sekarang dan beli dagangannya! Kita lebihin uangnya buat bapak itu. Buruan, sebelum bapaknya pergi!" kataku seraya berdiri dari tempat duduk.

Akhirnya kami bertiga keluar. Aku yang sudah berjalan keluar dari restoran terlebih dahulu langsung mengejar bapak-bapak tadi.

"Pak, Pak, tunggu! Saya mau beli rotinya," teriakku. "Satunya berapa ya?" tanyaku pada bapak itu.

"Satunya seribu lima ratus, mbak," jawab beliau.

Mendengar jawaban itu hatiku langsung menjerit sakit. Ya Allah... Satu roti seharga 1500? Lalu berapa keuntungan bapak tersebut? Pelupuk mataku pun mau tak mau mengeluarkan air mata meski tidak sampai mengalir.

"Pak, saya beli empat ya," kataku seraya mengambil semua uang receh (kertas dan logam) yang aku punya dan memberikannya ke bapak penjual roti itu. Berapa jumlah uangnya, aku juga tidak tahu. Yang jelas uang itu lebih dari harga roti yang aku beli. "Ini uangnya. Langsung dimasukin ke saku aja, Pak, soalnya ada uang logamnya! Takutnya nanti jatoh."

Tak lama kemudian, kedua temanku datang. Mereka masing-masing membeli tiga. Dan sama sepertiku, mereka membayar dengan memberi uang lebih. Yah, kami cuma berharap uang tersebut bisa jadi keuntungan buat beliau hari ini supaya beliau dan keluarganya bisa makan.

Beberapa saat setelah itu, kedua temanku pamit lebih dulu. Aku memutuskan untuk mencari alasan agar bisa pulang terakhir. Aku ingin menemani bapak itu sebentar. Aku ingin mengobrol. Aku ingin tahu tentang beliau.

"Permisi, Pak. Kalo boleh saya tau, Bapak namanya siapa?" tanyaku setelah teman-temanku pergi.

"Saya Maryono, Mbak," jawab bapak itu.

"Pak Maryono tinggal dimana?"

"Saya ngekos sama istri di daerah Wirobrajan. Tapi asli saya Wates (Kulon Progo)."

"Wirobrajan, Pak? Walah, jauh banget. Trus Bapak ke sininya naik apa?"

"Saya naik Trans Jogja, Mbak."

"Oohh... Naik Trans. Pernah nyasar nggak, Pak?"

"Pernah, beberapa kali. Tapi Alhamdulillah bisa sampe rumah juga."

"Trus Bapak setiap hari jualan roti keliling di sini?"

"Ya, tapi nggak setiap hari di depan mall. Kadang-kadang di Pasar Beringharjo."

"Itu dagangannya setiap hari habis, Pak?"

"Alhamdulillah habis."

"Wah, syukur Alhamdulillah ya, Pak." Aku tersenyum kecil. "Kalo boleh tau, itu setiap hari dapet berapa, Pak, keuntungannya?"

"Biasanya tiga puluh lima ribu sampe tujuh puluh lima ribu."

"Ooohhh... Pernah bisa sampe seratus ribu nggak, Pak?"

"Emm... Pernah sih, Mbak. Tapi jarang."

Aku menatap pilu Pak Maryono. "Jarang ya, Pak?" tanyaku sambil mengusap air mata.

"Iya, jarang," jawab beliau pelan. "Makanya kadang saya susah buat bayar kos yang harganya mahal."

"Emang sebulannya berapa, Pak?"

"Empat ratus ribu, mbak."

Kulihat Pak Maryono juga mengusap air mata, yang makin membuat hatiku teriris melihatnya. Sebagai orang yang sama-sama tinggal di kos, 400 ribu sebulan memang sudah termasuk mahal untuk ukuran kos-kosan di Jogja. Apalagi dengan pendapatan beliau yang cuma segitu, untuk makan sehari dengan istrinya saja mungkin kurang.

Aku tak henti memandang wajah beliau yang sedikit pucat dan berkeringat. Ya, Allah... Mudahkanlah hidup bapak ini! Lancarkanlah rejekinya!

"Oya, anak Bapak kelas berapa sekarang?" tanyaku kemudian.

"Saya... belom punya anak, Mbak," jawab beliau terputus-putus.

Hah?? Belum punya anak?? batinku. Aku menatap sedih wajah tua di hadapanku. Di usianya yang sudah sekitar setengah abad ini harusnya beliau sudah punya anak, atau bahkan sudah punya cucu.

Sambil menahan air mata yang lagi-lagi hendak keluar dari pelupuk mata, aku kembali bertanya, "Maaf, Pak. Kalo boleh saya tau, Bapak udah berapa taun nikah sama istri?"

"Udah lima taun. Tapi emm... Sebenernya dulu saya udah nikah sebelum sama istri saya yang sekarang. Dia orang Cilacap. Tapi karna suatu hal, kami bercerai dan dia langsung nikah lagi."

"Ooohhh... Trus dari dulu Bapak jualan roti di sini?"

"Nggak, Mbak. Dulu saya jatuh bangun buka usaha. Awalnya jadi tukang pijat di Cilacap. Karna cerai sama istri saya yang pertama, saya mutusin buat balik ke Jogja dan nikah lagi. Saya udah beberapa kali buka usaha yang lain, tapi nggak berhasil. Akhirnya sekarang saya cuma bisa jualan roti."

Air mata yang tadinya sudah kutahan dengan susah payah, mau tak mau mengalir juga. Sambil mengusap air mata, aku bertanya, "Maaf, Pak. Apa istri Bapak juga tunanetra?"

"Iya. Tapi dulu sebelum nikah sama saya, dia masih bisa liat dikit. Tapi sekarang udah nggak bisa."

"Kalo saya boleh tau, Bapak sendiri nggak bisa liat karna apa?"

"Dulu saya sempet sakit di usia delapan bulan," jawab beliau seraya mengusap air matanya.

Ya Allah... Pembicaraan ini sungguh memilukan. Aku benar-benar tak tahan mendengar kisah hidup Pak Maryono. Aku terharu dengan perjuangan beliau yang pantang menyerah. Setelah ditinggal istri pertamanya, beliau tak terus-menerus larut dalam kesedihan. Beliau berusaha bangkit dan melanjutkan hidupnya.

Akhirnya, karena hari sudah semakin sore, aku memutuskan untuk pamit. "Pak, maaf saya harus pulang. Tapi lebih baik Bapak duduk aja soalnya sekarang kita lagi berdiri di pinggir jalan masuk mobil yang mau ke mall dan hotel. Takutnya nanti Bapak jalannya menengah-nengah. Mari, Pak, saya anterin cari tempat duduk!"

"Oh ya, Mbak, makasih banyak."

Kemudian aku menuntun Pak Maryono mencari tempat duduk di dekat pos satpam.

"Saya pamit pulang dulu ya, Pak. Moga-moga lain kali saya bisa ketemu sama Bapak lagi. Saya mau beli rotinya buat oleh-oleh keluarga saya di rumah."

"Ya, Mbak, makasih."

"Sama-sama, Pak."

Akhirnya aku pulang dengan membawa empat roti pisang coklat kesukaanku yang tadi aku beli dari Pak Maryono. Dalam hati aku berdoa, semoga lain waktu aku bisa bertemu beliau lagi. Amiiinnn...

Note:
Guys, dari kisah nyata ini, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Pengalaman orang lain bisa menjadi ilmu dan pengetahuan bagi kita. Kita sebagai manusia, hendaknya peka terhadap lingkungan sekitar. Luangkanlah waktu untuk memandang sekelilingmu! Yakinlah, ada banyak orang-orang di luar sana yang kurang beruntung daripada kita. Dan jika kalian melihat orang seperti itu, dekatilah dan ulurkan tangan kalian untuk membantu, meski bantuan itu cuma berbentuk kecil!

Tidak ada komentar: